Diarsipkan di bawah: Uncategorized
usah ditanya kenapa aku tak berani menatap sepasang mata ibu ketika aku mencium telapak tangannya sebagai pamitan.
Aku juga tidak tahu apakah sepasang mata ibu berkaca seperti sepasang mataku.
Alasan yang mungkin adalah, aku tidak tega membiarkan ibu sendiri merajut sepi. Dan, masih ada satu alasan yang kulipatsembunyikan. Tak mungkin aku ceritakan.
Mobil berhenti tepat di depan rumah. Aku segera mengakhiri sungkem itu dan sesegera naik kedalam mobil. Aku tak berani menoleh ke arah ibu yang masih berdiri menunggu sambil melambaikan kulit tangannya yang mulai surut. Beberapa kursi tampak kosong, aku memilih kursi di sebelah jendela.
Ketika bus menderu pelan, darahku di balik dada berdesir. Aku masih juga belum bisa menoleh ke belakang. Aku masih menahan air mata yang bergelayut di pelupuk mata. Hanya satu hal yang ingin kulakukan, aku tak mau air mata itu jatuh terurai. Itu sudah menjadi janjiku.
Kuintip ibu dari kaca. Sepasang mataku masih bisa menangkap sesosok ibu yang berdiri di depan rumah. Masih jelas rambut putih ibu. Keriput wajahnya yang berjalan seiring waktu. Sehelai koyok berbentuk persegi melekat di keningnya dan sal yang melilit lehernya, membuat wajah ibu menjadi benar-benar tampak tua.
Rumah-rumah seolah berjalan. Seperti waktu yang berlalu. Seiring hatiku yang semakin layu. Rumah-rumah teman yang pernah kusinggahi melintas begitu saja. Taman kanak-kanak yang dulu pernah kulewati dengan bahagia, sekolah dasarku. Kenangan itu seperti gedung-gedung tua yang pudar terkikis usia.
Sepasang bola mataku masih berkca-kaca. Aku memejamkan kedua mataku dengan pelan. Takut peluh itu pecah. Aku sudah terlampaui berjanji kepada diriku untuk tidak menangis. Ya, aku tidak boleh menangis, apapun yang bakal terjadi.
mobil berhenti. Perhatianku teralih kepada seorang lelaki yang mengecup kening seorang anak lelaki yang berada di gendongan ibunya, sebelum ia naik bus. Semenjak lahir, keningku tidak pernah dikecup oleh ibu. Aku mengenal ayah dari cerita ibu dan foto-foto yang tersisa.
“Kamu harus lupakan ayahmu” begitu kata ibu kala itu.
Ayah adalah seorang prajurit. Aku lahir ketika nafas ayah tidak dapat lagi dihembuskan di udara. Aku masih teringat betapa perjuangan ibu saat itu. Ibu menghadapi masa itu dengan penuh kegigihan dan kesabaran. Aku berani bertaruh, orang yang kukenal di dunia ini tak ada yang sabar seperti kesabaran yang dimiliki oleh ibu.
Semenjak kecil, ibu juga tidak pernah memiliki kasih sayang dari ayah, kecuali hanya sebentar. Nenek meninggal ketika ibu masih berusia lima tahun. Kemudian ibu ikut budhe, kakak tiri ibu, dari pernikahan istri pertama kakek yang juga meninggal. Tak lama kemaudian kakek meninggal. Mungkin tempaan ini yang membuat ibu cukup sabar dalam menghadapi hidup.
Semenjak saat itu, ibu ikut budhe. Budhe adalah orang yang sangat baik kepada ibu. Hingga ibu bertemu dengan ayah dan tak sempat menikah Pernah aku menyarankan untuk pindah ke rumah budhe, dan budhe pun sangat memberikan peluang untuk itu. Tapi ibu selalu tak mau merepotkan orang lain. Baginya, hutang budinya ke budhe masih belum bisa dibalas.
Aku menatap senja yang memerah. Peluh di mataku hendak pecah.
“Turun mana Mbak?”
Seorang kondektur menagihku karcis. Aku menyebutkan nama sebuah terminal sambil memberikan uang puluhan. Akupun tak berani menatap lelaki muda di depanku yang kini menuliskan sesuatu di kertasnya dan menyobeknya kemudian di berikan kepadaku.
Lampu-lampu mulai di nyalakan. Senja merah sudah tersedot ke ufuk barat di telan gedung-gedung dan antena-antena yang menjulang ke langit. Peluh itu terus menggelayut hendak larut. Bus sesekali berhenti ketika ada penumpang naik.
Sejenak aku teriangat masa kecilku. Betapa bahagianya hari-hari kulewati dengan ibu. Pernah suatu liburan di SMP ketika hendak studi tour, semua orang tua mengantarkan anak-anaknya. Memeluk mereka sebelum bus berangkat atau melambaikan tangan. Aku melihat ibu seorang diri dengan senyum bahagia. Itulah pertama kali aku meninggalkan ibu seorang diri.
Saat itu, seperti saat ini, aku duduk di samping jendela saat bus melaju. Menyentuh tas, seperti saat ini, yang berisi bontotan yang ibu berikan. Ibu selalu memberikan bekal, sampai saat ini.
“Biasanya makanan di sana mahal nak,
kamu nggak usah ikut-ikutan makan di sana. Ini ibu beri bekal, nanti di makan di sana. Sengaja ibu lebihkan, mungkin ada temanmu yang tidak membawa, kamu bisa berbagi dengan mereka. Hidup itu jangan selalu memandang ke atas, pandanglah yang di bawah, kau akan merasa bungah.”
Saat piknik ke jawa tengah, teman-teman turun, langsung makan di sebuah restoran. Aku menaruh uangku di bawah kaus kakiku. Aku tidak ingin menghabiskan uang ini, aku tahu uang ini adalah hasil ibu menjual kalung yang pernah dihadiahkan ayah.
“Kemana kalung ibu?” tanyaku saat itu
Ibu hanya tersenyum.
“Ibu menjualnya untuk biayaku berangkat studi tour?”
Saat itu aku menatap sepasang mata ibu, ibu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ada sesuatu yang menggelayut di mata ibu yang tidak ingin kuketahui. Sepertinya ia hendak menyembunyikan air matanya dari sepasang mataku. Dan, saat itu ibu mengakui bahwa kalungnya digadaikan untuk baiayaku.
“Aku tidak pernah bisa meninggalkan harta untukmu zha, aku ingin kau sekolah. Aku ingin meninggalkan ilmu kepadamu, kelak untuk bekal masa depanmu.”
Ibu tak pernah berhenti berdoa tiap malam. Sering kuintip ibu menangis dalam doa meminta panajang umur agar bisa menjadikanku perempuan yang memiliki masa depan, ia membiayaku dan aku hingga lulus sarjana .
Dadaku makin sesak mengingat semuanya. Bibirku gemetar. Dadaku bergemuruh. Ingin rasanya aku meloncat dari bus dan berlari ke arah ibu memeluknya, bersimpuh di hadapannya dan memohon maaf atas semua yang pernah kulakukan.
“Kalaupun ibu mati, ibu sudah bangga melihatmu!” begitu kata ibu ketika sarapan tadi pagi “aku tinggal melihatmu berumah tangga, dan memiliki cucu!”
Aku tak bisa lagi menahan peluh yang mengalir di pelpis mata. Cahaya-cahaya berkilat di luar menerpa tubuhku mukaku. Aku tak peduli. Air mata ini terus mengalir seperti es yang mencair. Semua terasa getir. Tak mungkin aku akan menghancurkan perasaan ibu, atau membuatnya kecewa. Tak mungkin aku membayar apa yang pernah ibu korbankan demi diriku. Seluruh perhiasannya, tinggalan satu-satunya dari ayah yang dibanggakan, dijualnya.
“Bukankah ini peningalan ayah yang paling berharga buat ibu?” kataku saat ibu memberiku uang untuk kuliah.
“Ibu tidak akan mewarisimu harta atau kenangan sayang. Ibu hanya punya ini, ibu ingin mewarisi ilmu” begitu alasan ibu.
Sebuah alasan yang sama, tetapi alasan itu sangat bermakna dan saat itu aku sangat gigih untuk segera menyelesaikan studiku. Aku mendapatkan gelar kesarjanaan. Betapa air mata kami terburai bahagia. Aku menatap mata ibu dan ibu mentap sepasang mataku. Kami menangis dan berpelukan dalam bahagia.
Kuceritakan cita-citaku kepada ibu. Aku ingin membeli rumah jika nanti aku bekerja, aku akan membuat taman dimana ibu setiap pagi bisa memandang ikan atau sekedar merawat bunga seperti yang sering ibu lakukan seperti sekarang ini.
Aku sujud syukur kepada Tuhan dan ibuku menangis bahagia. Sepasang mataku menatap mata ibu. Kami menangis dan kami saling berpelukan. Gajiku selama satu bulan cukup untuk sekedar kontrak di sebuah rumah yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah yang lama. Ibuku sangat senang.
“Mewarisi ilmu lebih berharga dari pada harta bukan?” kata ibu.
Akupun tersenyum dan sangat bahagia. Namun, kebahgianku itu tak berlangsung lama. Sebuah keputusan yang sebenarnya amat sulit kulakukan, tetapi musti kulakukan.
Air mata tetap mengalir sederas sebelumnya. Suara adzan terdengar terlantunkan, setelah suara Al-qurqn di tadaruskan. Hatiku makin menanyat, menorehperih.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada ibu. Hingga detik ini, seluruh usaha yang pernah ibu berikan kubalas dengan tuba. Aku tak kuasa. Aku ingin berlari tapi entah kemana. Apakah kemtian akan memberikan jawaban setiap pertanyaan. Aku terdiam menatap malam di luar jendela bersama deru bus yang menderu. Hatiku semakin layu. Semuanya tampak hening. Aku bermimpi menatap sepasang mata ibu yang kini fotonya dalam genggamanku.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Aku selalu ingat pada kalian
Aku selalu Cinta dan menyayangi kalian
Ayah, Ibu …
Maafkan Aku yang tak kunjung pulang
Maafkan Aku yang selalu berharap ini semua akan cepat berakhir
Ayah, Ibu …
Aku akan tetap menemani apapun yang terjadi
Aku takkan menyerah apapun sakitnya kenyataan ini
Ayah, Ibu …
Demi Hidup kalian merelakan harga diri
Demi Hidupku kalian mengorbankan Perasaan hingga segalanya
Ayah, Ibu …
Terima kasih …
Aku takkan rela jika Aku tiada Bahagiakan kalian!!!
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Kepada kau yang tercinta
aku selalu memberi sebuah rasa
Yang tak akan ku berikan sebuh Noda
Dalam cerita kita yang sangat mempesona
Kepada Kau yang Tersayang
tahu kah akau wajah mu selalu terbayang
Disetiap hariku tak akan pernah hilang
dan cintamu membuatku selalu melayang
ada dan menjadi kisah yang terlukis
hidup akan selalu bahagia dan tak akan miris
Dan akan kuberikan cinta tak pernah terkikis
memberi Nafas pada hidup
Menyibak kabut meredup
Membentang Indah Warna Pelangi
Kembali membawa kepak masa itu
terteguk kembali gelisah resah
terbuai angan kembali merayu rayu
titian putaran waktu
Kembali memutarkan
Melantunkan lambaian kasih
Sebersit indah lamunan kala lalu
Aku berteriak dalam diam
Tentang rasa ku kepada bidadari
aku merindukan..aku mencintainya..
Tapi semua tertelan hening yang bening
pelita indah bersambut
memancarkan harapan dan impian diri
tapi harus kubunuh ingin yang terlalu mengingini
Kubuiarkan mimpi lepas dari cakrawala nurani
Biarlah semua kembali bisu tanpa jejak sebuah hati
Malam semakin temaram
Duduk aku bersimpuh dalam khayalan kalbu
ku bercerita pada sang bulan
tentang indah satu cinta lalu
Satu masa telah terganti
mungkin sang bidadari telah menepi
di setapak belakang jalan cintaku
Memberi indah hayal rasa itu
Dari relung hati terdalam
Aku terkulai dalam hiasan ingin hati
Aku terhempas terletak tak berdaya
Dengan pesona yang menebar ke jiwa
Dia dekat tapi jauh untuk tergapai
hati dibelenggu tak bisa pergi
Merasuk angin berkabut nurani
Dan kulalui masa yang telah berganti
Cintaku seperti matahari merindukan rembulan
Seperti siang mencintai sang malam
Begitulah cinta tak terbawa dalam nyata
Aku semakin terlarut dalam kisah indah itu
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
The best my friend
nach… inilah anak asli(tulen) wong Jogja ,dia dilahirkan di klaten Jogja Jawa Tengah.. dia biasa di panggil mas Yono (Maryono). sedikit mengungkap tentang sifat dia.. mas Yon Wonge Apik Ramah,Sabar, Ra pernah Neesu (gak Pernah Marah) tapi kalau dia sudah marah uichhh .. smua pada takut sama dia.. wa berteman ma dia sudah sangat lama, kita susah seneng sendiri..hwe..hahaha (Just kiding) bersama maksudku.
dia senior kita yang sangat kita hormati.. dan tauladani.. ceih bahanya terlalu berat nich. semua tentang maryono klik disini
nih photo waktu kita bareng rekan rekan tour di bali juga.. dari kita naik bis sampai naik kendaraan yang berdesak-desakan kita selalu hampir berdua
hingga kita satu kamar(tapi kita berdua Normal ko pembaca
nah.. ini nih waktu kita gembira ri di pantai.. aku lupa pantai apa”
tapi yang jelas dari photo disamping kita begitu akrab kan?
the best of my friend gitu loh..!
sahabat susah dicari musuh gampang di cari itu kata pepatah.. makanya para pembaca harus tau arti sahabat yang sebenernya kita bisa maju karena sahabat, kita bisa berlindung pada sahabat,kita butuh bantuaanpun pada sahabat.
Hidup SAHABAT……………………………………….!!!!!
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
wah kebayang gak bisa berlibur ke bali…dan akhirnya kesampain juga akhirnya aku dan rekan/sahabat bisa berlibur kebali,, ternyata memeng benar apa yang dikatakan orang bali memeng suatu pulau yang istimewa. di sammping budayanya yang sangat kental dan keanekaragaman seni dan budaya yang mereka miliki,, awal perytama yang kita singgahi adalah pantai sanur,,, dan disitu kita sampai kira-kira pukul 08.00 bagian Tengah, dan disitu kita banyak melihat wisatawan luar dan eku melihat mereka juga menikmati keindahan pulau bali ini.
dan aku menikmati liburanku disana dengan sangat kagum dan bangga dengan negara Indonesia kita. disisi lain wisatawan juga sangat suka dan rasa ingin tau mereka lebih besar untuk mengenal seni budaya kota bali ini.
perjalanku dilanjutkan ke Tanah lot..dan disitu aku juga sempat memotret suatu gambar dan bagi kalian yang belum melihat jelas ,,bisa lihat di samping ini
kita melihat disini di atas itu adalah suatu pura yang dinggap paling suci, dan tidak semua orang bisa masuk kedalam pura itu.. apalagi bagi wanita yang sedang Datang Bulan(haid) itu dilarang datang kesitu.. dan di bawah ada suatu sumur yang Fungsinya bila cucimuka/mandi dia akan menjadi awet muda tapi itulah yang aku dengar. dan disebelah kiri kita juga bisa melihat ular suci, ularnya kecil dan bagi yang melihat ular tersebut akan dipungut biaya 100 rupiah. gsmbsr diatas kitika sedang surut, jadi kita bisa masuk dan melintasi pinggiran pura
.
dan inilah saat keadaan air pasang jadi kita tidak bisa melintasi area pinggiran tanah lot ini, karena air akan melebihi batas dan biasanya para wisatawan memilih mengunjungi tanah lot pada siang hari karena air sudah serut.
wasalammmmm………
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Sambil mengusap peluh dan menahan lapar
Aku mengangguk malas
Mendengar kamu bicara tentang cinta dan setia
Debu menyeruak dari kaca jendela
Menerobos setiap celah paru-paru
Pepat, menyesakkan
Pada siang yang terik
Apa cinta itu sobat?
Diakah itu yang membuat manusia
Rela menderita
Menunda mati?
Kamu masih bicara tentang kekasih
Bermata sendu
Berwajah murung
Sementara kangenku pun pada sebentuk wajah
yang lain…
Semusim sudah berlalu
ku arungi hidup tanpa dirimu di sisiku
akan kah massa yang akan datang…?
massa kita kan bertemu….
hatiku gundah gulana…
saat ingat akan semuanya
angin berhembus menebar pesonamu
aku terdiam sejenak, benarkah itu diri mu…..?
di atas sana rembulan tersenyum
seolah dirimu tersenyum pada ku
aku terpaku…………….
saat bintang-bintang menari mengelilingi senyum mu…
aku tertunduk lesu……….
rembulan telah menghilang
kemana kan ku cari, aku kegelapan
ku coba tuk melangkah
dan……….dalam derasnya hujan malam ini
aku teringat langkah ku,yang terus menantikan dirimu
berharap engkau datang dengan cinta, yang membuat
hati ini teduh dan berbunga…………
karna…………….aku punya sekeping hati dan cinta
ku ingin membawanya
keluar dari penjara hati ku
tuk meletak kan di atas tangan mu……….
di kesendirianku ku tulis puisi untuk mu
tentang cinta yang terasa, tentang asa yang ada
atau tentang rindu yang ku punya
terkadang juga buat hati yang kau buat lara
namun semua puisi ini tetap disini
tak pernah tiba pada mu
akhirnya ini semua menjadi puisi tentang perjalanan
hidup seorang manusia menuju pendewasaan
Teruntuk yang jauh disana








